Selamat Datang, Selamat Menikmati Koleksi Kami dan Selamat Berbelanja

MISTERI BATU KLAWING, PURBALINGGA

  
Batu Klawing, Purbalingga
Batu Klawing,
Purbalingga
Misteri batu Klawing di Kabupaten Purbalingga seolah tak kenal ending. Setelah temuan  artefak batu prasejarah  dan batumulia jenis  " Le Sang Du Christ " atau   "Darah Kristus" oleh para mahasiswa geologi UNSOED , Purbalingga , di DAS Klawing beberapa waktu lalu (diberitakan luas di beberapa surat kabar  regional dan nasional  antara lain  Kedaulatan Rakyat, Suara Merdeka, Pikiran Rakyat, Kompas, dan Media Indonesia) , beberapa hari yang lalu mang Okim menemukan  variasi lain yaitu batu Panca Warna. Seperti yang terlihat di gambar 1, bagian luar dari bongkah batu yang dipotret jenisnya jasper hijau Klawing. Masuk sedikit ke dalam, tampak bercak-bercak seperti tetesan atau cipratan darah.  Lebih ke dalam lagi,  bercak-bercaknya menyatu bagaikan awan kumulus dengan corak memikat dan warna beragam antara lain coklat, kuning, merah, hijau, biru, dan putih ( bukan panca warna lagi tetapi sudah 6 warna - - - ta' iya ! ). Yang sangat istimewa dari batu di gambar 1 ini adalah kualitas polesnya yang bagaikan cermin  yang merupakan  ciri dari  batumulia high quality !
Di gambar 2 terlihat fenomena yang lebih aneh lagi.  Batu hijau Klawing tampak dilengkapi dengan hiasan mineral berwarna putih kehijauan yang memancar  begitu indahnya bagaikan sinar mentari.  Mang Okim tadinya sempat bingung menebaknya, mineral apakah gerangan. Beruntunglah mang Okim   punya simpanan larutan HCl . Mineral yang memancar ini ternyata sangat reaktif dengan HCl sehingga susunan kimianya pastilah dari keluarga besar karbonat . Selain dari itu, mineral ini tergores oleh mineral fluorit yang kekerasannya hanya 4 skala Mohs. Walaupun berat jenisnya belum sempat diuji, mang Okim sudah berani menebak bahwa mineral berstruktur radial ini kira-kira adalah mineral keluarga karbonat jenis Aragonite . Mineral Aragonite semacam ini  pernah mang Okim temukan  di Singajaya, Garut, dalam urat-urat jasper berwarna merah dan hijau. Di contoh batuan lainnya yang didapat di DAS Klawing , terlihat  mineral Aragonite dengan struktur radial  yang mengisi lobang-lobang kosong di antara fosil koral yang telah tersilisifikasi ( gambarnya kurang berhasil sehingga tidak dilampirkan ).
Gambar 1 Gambar 2
GAMBAR  1 : Batu Panca Warna Klawing yang di bagian pinggirnya mengandung batu jasper jenis " Le Sang du Christ ". Perhatikan ragam  warna dan corak gambar serta kilapnya yang bagaikan cermin.


GAMBAR 2 : Mineral Aragonite yang memancar indah dalam massa dasar batumulia hijau jenis kalsedon hijau / Krisopras ( Chrysoprase ). Kualitas polesnya tidak berbeda dengan Batu Panca Warna pada gambar 1 di atas, bagaikan cermin.
Tidak seluruhnya Jasper Hijau
Hasil uji gemologi terhadap mineral berwarna hijau yang menyelimuti mineral radial Aragonite pada gambar 2 ternyata bukan jenis jasper hijau melainkan kalsedon hijau. Hal ini dibuktikan oleh sifat tembus cahayanya dimana potongan setebal 2 mm yang kemudian dibuat batu permata berbentuk kabocon ternyata tembus cahaya alias translusen. Seperti kita ketahui, batumulia jenis jasper prinsipnya tidak tembus cahaya. Kalau kita " lanjutkan " pengujiannya dengan alat refraktometer, hasilnya sungguh menggembirakan  karena nilai indek refraksinya sama dengan yang dimiliki Chrysoprase atau Krisopras yaitu sekitar 1,530-1,534. Dengan demikian maka nilai komersialnya tentu lebih tinggi dari sekedar jasper  - - - ta' iya !
Kembali ke yang namanya  batu " Le Sang Du Christ " yang menjadi populer setelah diberitakan 2 kali di koran Kompas  tanggal 15 dan 21 Juni 2009 ( terima kasih kepada Ibu Madina Nusrat, wartawan Kompas Jateng yang meliput kegiatan kuliah lapangan mahasiswa geologi UNSOED di DAS Klawing  tanggal 13  dan  27 Juni 2009 ), mang Okim sitir kalimat yang ditulis oleh Walter Schumann dalam bukunya tahun 1979 berjudul : Guide des pierres precieuses, pierres fines, pierres ornementales  halaman 128 : " Des pouvoirs magiques lui furent attribues au Moyen-Age, car ses eclaboussures rouges passaient pour etre des gouttes du sang du Christ " yang artinya :  "  Di abad pertengahan, kekuatan-kekuatan magis dipercaya terkandung dalam batu ini, karena cipratan-cipratan warna merah di dalamnya dianggap sebagai tetesan-tetesan darah Kristus ". Mang Okim sengaja tuliskan kalimat ini karena di internet ada yang mempertanyakan tentang lokasi tempat Kristus disalib, mengapa kok pindah ke  Purbalingga, bukannya  di Golgotta ?!

Artikel asli ada di http://gemafia.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=84:-misteri-batu-klawing-purbalingga&catid=39:todaynews&Itemid=9

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar